www.gemapesisir.com
Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Jum'at, 18 Oktober 2019
 
PN PAYAKUMBUH
Vonis Mati untuk Pembunuh Juru Parkir
Sabtu, 25-03-2017 - 05:27:36 WIB
Donny Erianto alias Doni, mantan anggota Trantib Pasar Payakumbuh yang diadili dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Revo Mario alias Rio, juru parkir,  dijatuhi hukuman mati.
TERKAIT:
 
  • Vonis Mati untuk Pembunuh Juru Parkir
  •  

    PAYAKUMBUH GEMAPESISIR. com - Donny Erianto alias Doni, mantan anggota Trantib Pasar Payakumbuh yang diadili dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Revo Mario alias Rio, juru parkir,  dijatuhi hukuman mati.

    Vonis mati terhadap Doni yang menghabisi nyawa Rio di belakang SMAN 4 Payakumbuh pada 17 September 2015 silam, diucapkan Majelis Hakim PN Payakumbuh dalam sidang, Rabu lalu (22/3).

    Sebelum menjatuhkan vonis mati untuk  Doni yang berasal dari Payobasuang, Payakumbuh Timur, Majelis Hakim menilai perbuatan Doni meresahkan masyarakat, karena caranya membunuh Rio dengan 26 luka robek di tubuh Rio terbilang sadis.

    ”Hal-hal yang memberatkan terdakwa tidak menyerahkan diri dan tidak mendapatkan maaf dari keluarga korban,” kata Ketua Majelis Hakim Efendi kepada Padang Ekspres (grup riaupos.co), Kamis (23/3).

    Doni yang dulu ditangkap polisi di Jalan Pariaman-Lubukbasung, persisnya di Kuraitaji, Padangpariaman, terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Jaksa Penuntut Umum (KPU) yang dalam sidang sebelumnya menuntut Doni dihukum 20 tahun penjara, juga ”menjerat” Doni dengan pasal pembunuhan direncanakan (moord) ini.

    ”JPU juga menuntut terdakwa dengan Pasal 340 KUHP dengan subsidair Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian. Tapi yang terbukti di persidangan terdakwa memang melanggar Pasal 340 KUHP, sehingga dijatuhi hukuman maksimum. Selain dijatuhi pidana mati, terdakwa juga dibebankan biaya perkara sebesar Rp 3 juta,” kata Efendi.

    Menariknya, meski menjatuhkan pidana mati untuk Doni yang pernah kabur ke sejumlah daerah, tapi putusan Majelis Hakim PN Payakumbuh pada Rabu lalu, diwarnai dengan concurring opinion (perbedaan pendapat).

    Hakim Anggota II dalam perkara ini, Dwi Novita Purbasari, menyampaikan concurring opinion (perbedaan pendapat), mengenai jenis hukuman yang paling tepat diterapkan dalam perbuatan Doni.

    ”Iya, terjadi concurring opinion bukan dissenting opinion. Walau yang memimpin sidang dalam perkara pembunuhan berencana ini langsung ketua Pengadilan Negeri, tapi karena menyangkut dengan demokrasi di peradilan dan kemandirian hakim tidak bisa dipengaruhi, maka concurring opinion yang baru pertama dalam sidang PN Payakumbuh ini tetap kami cantumkan dalam putusan perkara,” kata Efendi didampingi Agung Dermawan.

    Efendi menyebut, Hakim Anggota II Dwi Novita Purbasari berpendapat bahwa penjatuhan hukuman maksimum tidaklah tepat untuk diterapkan dalam perbuatan terdakwa dengan sejumlah alasan.

    Di antara, asalan itu bahwa dikarenakan sifatnya yang keras hukum pidana pada dasarnya adalah ultimumremedium. Di mana, hukum pidana hendaklah dijadikan upaya terakhir dalam penegakan hukum.

    Sehingga, Dwi Novita menilai penjatuhan hukuman maksimum haruslah diterapkan dengan sangat hati-hati. Dwi Novita yang akrab dipanggil Tata juga berpendapat untuk dapat menjatuhkan hukuman maksimum kepada terdakwa, haruslah dipandang ketika sudah tidak lagi terdapat hal-hal yang dapat meringankan hukuman. Sedangkan dalam perkara ini masih terdapat hal-hal meringankan yang patut dipertimbangkan, sebelum menjatuhkan hukum terhadap terdakwa.

    Menurut hakim Tata, hal-hal meringankan Doni yang patut dipertimbangkan adalah fakta yang terungkap di persidangan, bahwa faktor pemicu pembunuhan berencana ini berawal dari hilangnya handphone milik Doni.

    Belakangan diketahui pihak kepolisian, handphone Doni yang hilang tersebut ditemukan terselip di pakaian dalam Rio dalam kondisi penuh dengan kotoran Rio. Artinya, handphone Doni memang diduga dicuri Rio.

    Di samping itu, menurut hakim Tata, fakta lain yang terungkap di persidangan bahwa Rio-lah yang terlebih dahulu memukul Doni. Di mana, pemukulan (yang terjadi di warung tuak dekat kawasan Ibuah itu), juga merupakan suatu bentuk penggunaan jasmani secara melawan hukum.

    Di samping melihat fakta persimbangan, hakim Tata berpendapat hal-hal yang meringankan Doni adalah Doni belum pernah dihukum.

    ”Di persidangan, terdakwa menyatakan menyesali segala perbuatanya. Serta, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga yang masih memiliki tiga orang anak yang membutuhkan biaya dan perhatian dari terdakwa,” begitu concurring opinion hakim Dwi Novita Purbasari.

    Meski terjadi concurring opinion, tapi pada intinya Majelis Hakim PN Payakumbuh tetap menilai Doni bersalah dalam perkara ini. Hanya besaran hukuman saja yang berbeda. Dua hakim setuju Doni dijatuhi pidana maksimum dalam Pasal 340 KUH (pidana mati).

    Sedangkan hakim Tata berpendapat, hukuman maksimum tidaklah tepat diterapkan dalam perbuatan Doni, karena terdakwa masih dapat memperbaiki dirinya dan dapat kembali kepada masyarakat sebagai orang baik dengan tanpa mengabaikan keadilan bagi keluarga korban.

    Sementara, Doni yang dijatuhi pidana mati mengaku masih pikir-pikir dengan putusan tersebut. ”Saya, pikir-pikir dulu pak,” kata Doni yang saat pembacaan putusan tidak didampingi penasihat hukum.

    Meski Doni tak didampingi penasihat hukum, tapi menurut Efendi, putusan yang dia ucapkan dengan didampingi dua hakim anggota dan dibantu Panitera Pengganti Nasib, serta dihadiri penuntut umum Hadi Saputra tetap sah demi hukum. ”Pembacaan putusan dapat dilakukan walau terdakwa tak didampingi penasihat hukumnya,” kata Efendi.

    Terkait keberadaan Doni saat ini, diakui Efendi, sejak ditahan di Polres Payakumbuh hingga sidang berlangsung Doni memang sempat dititipkan jaksa di Rutan Polres Payakumbuh. Karena Doni bersama keluarganya khawatir terjadi aksi balas dendam terhadap Doni.

    ”Namun, kini Doni sudah di Rutan Suliki. Itu sesuai surat permohonan yang disampaikan Doni dan keluarganya dalam sidang Januari lalu,” kata Efendi. (*)

    Sumber: Padang Ekspres.



     
    Berita Lainnya :
  • Vonis Mati untuk Pembunuh Juru Parkir
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Jum’at Barokah
    Tim Jum’at Barokah Polresta Pekanbaru Dua Rumah Warga
    2 Dituding Lecehkan Advokat,
    Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Riau, Sugeng Riyanta: Itu Halusinasi
    3 Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI)
    Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) Cabang Riau Taja Acara Worksop
    4 PN PAYAKUMBUH
    Vonis Mati untuk Pembunuh Juru Parkir
    5 Kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia
    Ini Kegiatan Hari Kedua Raja Salman di Indonesia
    6 Danrem: Saya Langsung Telpon Pak Kapolda
    Danrem, Kapolda & Kabinda Riau klarifikasi berita provokatif
    7 SK CPNS
    Bupati Rohil Serahkan SK CPNS Ke Alumni STTD
    8 Korupsi Disdik Rohil
    Sidang Korupsi Disdik, Jaksa Hadirkan 31 Saksi di Pengadilan Tipikor Pekanbaru.
    9 Perayaan Valentine Day
    Dikecam, Ciuman Massal ala PNS Nias Selatan
    10 POLEMIK PEMBERHENTIAN SEMENTARA
    Parmusi: Ahok Harus Diberhentikan agar Presiden Tidak Terperosok
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2017 PT. GEMA PESISIR PERS, All Rights Reserved